SAMPANG, lintasmadura.com – beredar video viral di beberapa group WhatsApp (GWA) seorang pria digebuk massa didalam masjid di kawasan Jalan Rajawali, Kabupaten Sampang pada Selasa (09/12/2025) dini hari.
Usut punya usut, alasan pria tersebut digebuk massa Karena telah menghebohkan warga dengan berteriak-teriak menggunakan pengeras suara dengan kalimat “kiamat-kiamat”.
Sehingga massa di sekitar masjid berhamburan masuk kedalam masjid dan menggebuk pria tersebut.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu sebagian warga masih beraktivitas di area sekitar masjid, sebelum mendengar suara teriakan dari dalam rumah ibadah tersebut.
Saksi di lokasi menyebut pria tersebut berulang kali berteriak “kiamat-kiamat” sambil berjalan mondar-mandir di dalam masjid.
Namun karena teriakan tidak kunjung berhenti, warga akhirnya mengamankan orang tersebut ke luar masjid dengan cara digebuk agar situasi tetap kondusif.
Namun pada saat bersamaan, laporan dikirimkan ke pihak kepolisian melalui layanan pesan WhatsApp.
Tak berselang lama, piket Sat Reskrim Polres Sampang tiba di lokasi. Petugas kemudian membawa pria itu ke Mapolres Sampang guna memastikan kondisi dan identitasnya serta mencegah kericuhan berlanjut.
Dari hasil identifikasi, pria tersebut berinisial SR, laki-laki, kelahiran Pandeglang tahun 1976, beralamat di Jalan Imam Ghozali, Kelurahan Gunung Sekar, Sampang. Petugas juga menghubungi keluarga yang bersangkutan untuk memberikan keterangan.
Keluarga menunjukkan dokumen resmi dari Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya Nomor RM 075160 tertanggal 12 September 2024 yang menerangkan bahwa SR atas nama Isamsuri pernah menjalani rawat inap jiwa. Dokumen tersebut mengonfirmasi bahwa pria tersebut benar merupakan ODGJ.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal, petugas menyerahkan SR kepada keluarganya dengan pendampingan perangkat desa untuk tindak lanjut penanganan medis.
Keputusan ini diambil untuk memastikan perawatan berjalan sesuai prosedur.
Selanjutnya, pria tersebut langsung dibawa ke RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang dengan tujuan mendapatkan penanganan lanjutan dan pemeriksaan kesehatan jiwa oleh tenaga medis yang berkompeten.
Petugas mengimbau masyarakat agar tetap tenang apabila menemukan kasus serupa serta segera melapor kepada aparat agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tanpa tindakan main hakim sendiri.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan kasus ODGJ membutuhkan kesiapan bersama antara masyarakat, keluarga, dan pihak keamanan demi menjaga keamanan lingkungan serta menjamin pasien memperoleh penanganan kesehatan yang layak.


