MALANG, lintasmadura.com – Di tengah dunia yang semakin terbuka, baik di sekolah maupun di media sosial, masih banyak orang yang merasa ejekan itu biasa saja. Orang yang terlihat berbeda, kurang percaya diri, atau sulit berinteraksi dengan orang lain seringkali jadi target lelucon.

Anehnya, saat orang itu menunjukkan perasaan tidak nyaman, justru dianggap terlalu sensitif. Situasi seperti ini
menunjukkan bahwa masalah bullying tidak hanya terjadi karena tindakan pelakunya saja, tetapi juga karena cara masyarakat memandang perundungan sebagai hal yang lumrah.

salah satu alasan bullying sulit dihentikan adalah karena orang sering menyembunyikan tindakan menyakitkan dengan mengatakan itu adalah bercanda.

Kalimat seperti “jangan baper”
atau “cuma bercanda” sering dipakai agar tidak terkena tanggung jawab. Padahal, tujuan seseorang ingin lucu tidak otomatis membuat perbuatannya bisa diterima.

Candaan seharusnya membuat semua orang senang, bukan membuat seseorang merasa malu. Ketika sebuah lelucon terus-menerus menargetkan orang yang sama, merendahkan harga dirinya, dan membuatnya takut berada di lingkungan tertentu, maka perilaku tersebut tidak lagi bisa dianggap sebagai tawa biasa.

Masalah ini jadi lebih sulit karena bullying sering terjadi di depan banyak orang.

Misalnya, dalam sebuah kelompok pertemanan, seseorang bisa disindir karena penampilannya, cara berbicaranya, kondisi keuangan, atau hasil belajarnya.

Para teman yang melihat kejadian
itu kadang tertawa juga agar tidak terlihat berbeda dari kelompoknya. Ada juga yang memilih tidak berbicara karena takut jadi target berikutnya. Tanpa disadari, ucapan itu bisa membuat pelaku merasa tindakannya mendapat dukungan.

Akibatnya, korban semakin sulit mencari bantuan, sementara kebiasaan merendahkan orang lain terus terjadi
orang-orang yang menyaksikan bullying memiliki peran penting dalam menentukan apakah perundungan akan terus terjadi atau justru berhenti.

Memang, saksi tidak selalu
memiliki keberanian untuk menegur pelaku secara langsung. Namun, mereka tetap dapat mengambil tindakan sederhana, seperti tidak ikut tertawa, tidak menyebarkan penghinaan, menemani korban, atau melaporkan kejadian kepada pihak yang dapat membantu.

Tindakan tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dapat mengubah keadaan karena korban tidak lagi merasa
menghadapi masalahnya seorang diri.

Perkembangan media sosial juga membuat persoalan bullying semakin kompleks. Seseorang dapat menerima hinaan bukan hanya di lingkungan sekolah atau pertemanan, melainkan juga melalui komentar, pesan pribadi, unggahan, dan video yang disebarluaskan.

Bahkan, konten yang mempermalukan seseorang dapat menjadi bahan hiburan bagi ribuan pengguna internet. Masyarakat sering kali lebih tertarik mengikuti sesuatu yang sedang viral
daripada memikirkan dampaknya terhadap orang yang menjadi sasaran.

kebiasaan ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna media sosial masih belum memahami perbedaan
antara kebebasan berekspresi dan tindakan yang merugikan orang lain.

Dampak bullying tidak selalu terlihat secara langsung. Korban mungkin tetap datang ke sekolah, mengikuti perkuliahan, atau beraktivitas seperti biasa, tetapi menyimpan rasa takut
dan kehilangan kepercayaan diri. Sebagian orang bahkan memilih menyembunyikan pengalaman yang dialaminya karena khawatir dianggap lemah atau justru disalahkan.

Oleh sebab itu, masyarakat tidak seharusnya menilai kondisi korban hanya berdasarkan apa yang
terlihat dari luar. Kita perlu belajar mendengarkan tanpa menghakimi dan memahami bahwa setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda.

Upaya menghentikan bullying perlu dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Keluarga dan institusi pendidikan perlu membiasakan komunikasi yang menghargai
perbedaan, menyediakan jalur pelaporan yang aman, serta menindaklanjuti setiap laporan secara adil.

Pelaku juga perlu diminta bertanggung jawab atas perbuatannya dan dibimbing agar memahami dampak tindakannya.

Sementara itu, pengguna media sosial harus lebih bijak sebelum menulis komentar atau membagikan konten yang dapat mempermalukan orang lain.

Perubahan tidak cukup dilakukan melalui slogan anti perundungan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku nyata.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah mengubah anggapan bahwa korban harus selalu menjadi pihak yang menyesuaikan diri.

Korban tidak seharusnya terus-menerus diminta untuk lebih kuat, tidak mudah tersinggung, atau belajar mengabaikan ejekan. Memang, kemampuan menghadapi tekanan diperlukan dalam kehidupan, tetapi kemampuan tersebut
tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku menyakiti orang lain.

Seseorang dapat belajar menjadi lebih tangguh tanpa harus menerima perlakuan yang merendahkan
martabatnya.

Pada akhirnya, bullying bukan sekadar persoalan antara pelaku dan korban, melainkan cerminan kepedulian masyarakat terhadap sesama.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan semua perkataan dan tindakan orang lain, tetapi kita dapat memilih untuk tidak menjadi bagian
dari perilaku yang menyakiti.

Berhenti menertawakan penghinaan, berani membela orang yang
direndahkan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab merupakan langkah sederhana yang dapat dimulai siapa saja. Jangan sampai tawa yang kita anggap sepele menjadi luka yang harus ditanggung orang lain dalam waktu lama.

Sebab, lingkungan yang baik
bukanlah lingkungan yang tidak pernah memiliki perbedaan, melainkan lingkungan yang
mampu menghargai perbedaan tanpa menjadikan siapa pun sebagai bahan penderitaan.