SAMPANG, lintasmadura.com – Kesadaran masyarakat terhadap bahaya Gagal Ginjal masih tergolong rendah, terutama dalam mengenali gejala awal yang kerap muncul tanpa tanda mencolok.

Banyak pasien baru menyadari kondisi ginjalnya sudah parah saat harus menjalani hemodialisis atau cuci darah di rumah sakit.

Padahal, jika terdeteksi sejak dini, kerusakan ginjal dapat dicegah agar tidak berkembang menjadi lebih berat.

Humas RSUD dr. Muhammad Zyn Sampang, Amin Jakfar Sadik, menjelaskan bahwa gagal ginjal umumnya berkembang secara perlahan dan sering tidak disadari oleh penderitanya.

Menurutnya, gejala awal sering dianggap sepele, sehingga pasien datang dalam kondisi sudah membutuhkan terapi cuci darah.

Ia menyebutkan, faktor risiko utama yang perlu diwaspadai antara lain Hipertensi dan Diabetes.

Kedua penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal secara bertahap jika tidak dikontrol dengan baik.

Selain itu, pola hidup tidak sehat juga menjadi pemicu, seperti konsumsi makanan tinggi garam dan gula, kurang minum air putih, serta kebiasaan merokok.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama tekanan darah dan kadar gula darah sebagai langkah deteksi dini.

Perubahan gaya hidup juga dinilai menjadi kunci utama pencegahan, seperti mengatur pola makan seimbang, memperbanyak konsumsi air putih, dan rutin berolahraga.

Adapun tanda awal gangguan ginjal yang perlu diwaspadai meliputi mudah lelah, pembengkakan pada kaki atau wajah, mual, penurunan nafsu makan, hingga perubahan frekuensi buang air kecil.

Amin juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa anjuran dokter karena dapat memperberat kerja ginjal.

Jika memiliki faktor risiko atau merasakan gejala, masyarakat disarankan segera berkonsultasi ke tenaga medis agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.